
Semarang – Program Studi Magister (S2) Ilmu Falak Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang menggelar kegiatan kajian kitab falak klasik selama bulan Ramadan 1447 H. Kegiatan tersebut berfokus pada pengkajian kitab ad-Durr al-Aniq yang merupakan salah satu literatur penting dalam khazanah ilmu falak klasik Islam.
Kajian kitab tersebut dilaksanakan di Laboratorium Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo Semarang dan diikuti oleh mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Falak. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya akademik untuk memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap literatur klasik yang selama ini menjadi rujukan dalam pengembangan ilmu falak.
Program kajian kitab ini menghadirkan narasumber H. M. Basthoni yang merupakan Ketua Lajnah Falakiyyah PWNU Jawa Tengah. Dalam kegiatan tersebut, Basthoni memaparkan berbagai konsep penting dalam kitab ad-Durr al-Aniq, mulai dari dasar-dasar perhitungan falak hingga pendekatan klasik yang digunakan para ulama dalam menentukan berbagai fenomena astronomi yang berkaitan dengan ibadah umat Islam.
Kajian kitab falak menjadi salah satu metode pembelajaran yang penting dalam studi ilmu falak di lingkungan perguruan tinggi keagamaan. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori modern terkait astronomi Islam, tetapi juga memahami sumber-sumber klasik yang menjadi dasar perkembangan ilmu falak di dunia Islam.
Ketua Program Studi S2 Ilmu Falak, Ahmad Adib Rofiuddin, menjelaskan bahwa kegiatan ini sengaja dilaksanakan selama bulan Ramadan karena momentum tersebut dinilai tepat untuk memperdalam kajian keilmuan yang berkaitan dengan penentuan waktu-waktu ibadah.
“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan lebih mendalam bagi mahasiswa S2 Ilmu Falak tentang kitab falak. Untuk Ramadan kali ini kami mengkaji kitab ad-Durr al-Aniq,” ujar Ahmad Adib Rofiuddin.
Menurutnya, kitab ad-Durr al-Aniq merupakan salah satu karya penting dalam literatur falak klasik yang memuat berbagai konsep dasar mengenai perhitungan astronomi dalam tradisi keilmuan Islam. Oleh karena itu, mahasiswa Ilmu Falak diharapkan mampu memahami isi kitab tersebut secara komprehensif agar dapat mengaitkannya dengan perkembangan ilmu falak kontemporer.
Ia menambahkan bahwa kajian kitab klasik juga menjadi sarana untuk melestarikan tradisi keilmuan Islam yang telah berkembang sejak berabad-abad lalu. Dengan mempelajari langsung karya-karya ulama terdahulu, mahasiswa diharapkan memiliki perspektif yang lebih luas dalam memahami ilmu falak.
Selain itu, kegiatan kajian kitab ini juga dirancang secara interaktif. Para peserta tidak hanya mendengarkan pemaparan materi dari narasumber, tetapi juga diajak untuk berdiskusi dan menganalisis isi kitab secara mendalam. Metode ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan analisis mahasiswa dalam memahami teks-teks klasik yang seringkali menggunakan bahasa dan pendekatan yang berbeda dengan literatur modern.
H. M. Basthoni dalam paparannya menjelaskan bahwa kitab-kitab falak klasik memiliki nilai penting karena menjadi fondasi dari berbagai metode perhitungan astronomi yang digunakan hingga saat ini. Ia juga menekankan pentingnya memahami konteks historis dan metodologis dalam membaca karya-karya tersebut.
Menurutnya, kajian kitab klasik tidak hanya relevan bagi kalangan akademisi, tetapi juga penting bagi praktisi falak yang terlibat dalam penentuan awal bulan hijriah, arah kiblat, serta waktu salat.
“Kitab-kitab falak klasik menyimpan banyak metode dan pendekatan yang masih bisa dipelajari hingga sekarang. Oleh karena itu, generasi muda yang menekuni ilmu falak perlu memahami warisan keilmuan tersebut,” ungkap Basthoni.
Kegiatan ini mendapatkan antusiasme tinggi dari para mahasiswa. Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali pengetahuan lebih dalam mengenai konsep-konsep falak yang terdapat dalam kitab ad-Durr al-Aniq.
Bagi mahasiswa S2 Ilmu Falak, kajian kitab semacam ini menjadi pengalaman akademik yang penting karena memberikan pemahaman langsung terhadap sumber-sumber keilmuan klasik. Selain itu, kegiatan ini juga membantu mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan membaca dan menafsirkan teks ilmiah berbahasa Arab yang menjadi ciri khas literatur falak tradisional.
Melalui kegiatan ini, Program Studi S2 Ilmu Falak UIN Walisongo berharap mahasiswa tidak hanya menguasai aspek teknis perhitungan astronomi, tetapi juga memahami akar tradisi intelektual yang melatarbelakanginya.
Kajian kitab falak yang diselenggarakan selama Ramadan ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang terus dikembangkan di masa mendatang. Dengan demikian, mahasiswa Ilmu Falak dapat terus memperdalam kajian keilmuan sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi intelektual Islam dalam bidang astronomi.
