Semarang – Program Studi Magister Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan seminar internasional bertema “Islamic Astronomy in the Era of Big Data and Artificial Intelligence” melalui platfrom zoom meeting. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Malaysia, Dr. Mohd Hafiz bin Mohd Saadon, dari Department of Fiqh-Usul and Applied Sciences, university of Malaya, Malaysia.
Seminar tersebut dibuka oleh Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Muhyar Fanani. Dalam sambutannya, Prof. Dr. H. Muhyar Fanani, M.Ag. menekankan pentingnya pemanfaatan perkembangan teknologi untuk meningkatkan akurasi ilmu falak sekaligus mendukung kajian fikih.
Menurutnya, ilmu falak memiliki posisi penting dalam pelaksanaan ibadah umat Islam, terutama dalam menentukan arah kiblat, waktu salat, awal bulan kamariah, dan waktu terjadinya gerhana. Namun, pemanfaatan teknologi tetap harus ditempatkan sebagai sarana pendukung, bukan sebagai pengganti prinsip-prinsip keagamaan.
Kegiatan tersebut dimoderatori oleh Dr. Ahmad Adib Rofiuddin, M.S.I. Kepala Program Studi Magister Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang. Dalam pengantarnya, ia menjelaskan bahwa era Big Data memungkinkan masyarakat mengakses berbagai informasi dalam jumlah besar. Data tersebut kemudian dapat diolah dengan teknologi kecerdasan buatan untuk membantu berbagai pekerjaan dalam ilmu falak.
AI sebagai alat bantu ilmu falak
Dalam pemaparannya, Dr. Mohd Hafiz bin Mohd Saadon menjelaskan bahwa ilmu falak secara umum mencakup empat aspek penting, yaitu observasi, hisab atau perhitungan matematis, penerapan keagamaan, dan pemahaman intelektual. Keempat aspek tersebut saling berkaitan dalam menghasilkan kajian astronomi Islam yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menegaskan bahwa astronomi Islam tidak hanya berorientasi pada pengamatan benda-benda langit, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan pelaksanaan ibadah. Oleh karena itu, perkembangan teknologi dalam astronomi perlu diarahkan untuk mendukung kebutuhan umat Islam.
“Big Data dan Artificial intelligence bukan untuk menggantikan metode lama dalam ilmu falak, melainkan untuk membantu dan memudahkan pekerjaan manusia,” ujar Mohd Hafiz dalam pemaparannya.
Menurutnya, data astronomi yang dikumpulkan sejak masa lampau hingga era modern memiliki jumlah yang sangat besar. Data tersebut meliputi hasil pengamatan hilal, posisi benda langit, kondisi atmosfer, awan, kelembapan, hingga berbagai parameter astronomis lainnya.
Dengan bantuan AI, data dalam jumlah besar dapat dianalisis secara otomatis untuk menemukan pola, mengurangi kesalahan, dan menghasilkan prediksi. Dalam konteks ilmu falak, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk memprediksi hilal, menentukan waktu salat, memperkirakan arah kiblat, serta menganalisis fenomena astronomi lainnya.
Prediksi, bukan kepastian mutlak
Mohd Hafiz juga memberikan penekanan penting mengenai keterbatasan AI. Menurutnya, AI tidak menghasilkan akurasi atau kepastian mutlak seperti perhitungan hisab berdasarkan rumus matematika. AI bekerja dengan memberikan probabilitas atau kemungkinan berdasarkan data yang telah digunakan untuk melatih system.
“AI tidak memberikan accurasy, tetapi memberikan probability,” jelaskanya.
Ia mencontohkan penggunaan AI dalam pengamatan hilal. System kecerdasan buatan dapat dilatih menggunakan data tentang elongasi, ketinggian bulan, umur bulan, azimuth, kondisi awan, kelembapan, aerosol, dan tingkat kecerhan langit. Berdasarkan data tersebut, AI dapat memperkirakan kemungkinan hilal terlihat pada kondisi tertentu.
Namun hasil tersebut tetap memerlukan verifikasi melalui observasi dan pertimbangan ahli. Terlebih lagi kondisi geografis dan atmosfer di setiap wilayah berbeda. Pengamatan hilal di negara-negara gurun, misalnya, tidak dapat disamakan dengan pengamatan di Indonesia dan Malaysia yang memiliki tingkat kelembapan serta tutupan awan lebih tinggi.
Manfaat bagi Indonesia
Dalam seminar tersebut, Mohd Hafiz menyebut Indonesia memiliki potensi besar dalam pegembangan Big Data untuk ilmu falak. Wilayah Indonesia yang luas memiliki keragaman geografis dan kondisi atmosfer yang dapat menjadi data penting bagi pengembangan system AI.
Dari data berbagai daerah dapat digunakan untuk melatih mesian agar mampu menghasilkan prediksi yang lebih sesuai dengan kondisi lokal. Teknologi tersebut berpotensi membantu pengamatan hilal di wilayah terpencil, Kawasan pegunungan, hutan, maupun daerah yang memiliki keterbatasan visibilitas.
Selain itu, AI juga dapat digunakan untuk menghitung waktu salat secara lebih kontekstual. Perhitungan tidak hanya didasarkan pada zona wilayah, tetapi juga dapat mempertimbangkan posisi geografis, ketinggian tempat, kondisi langit, polusi, dan perubahan lokasi seseorang.
Peran ulama tetap penting
Meskipun menawarkan berbagai kemudahan, Mohd Hafiz menegaskan bahwa AI tidak boleh ditempatkan sebagai pengambil keputusan utama dalam persoalan keagamaan. Teknologi tersebut hanya berperan sebaga asisten atau alat bantu bagi para ahli falak, akademisi, dan ulama.
Ia menjelaskan bahwa AI dapat membantu pada tingkat data, informasi, dan Sebagian pengetahuan. Namun, aspek hikmah, adab, akhlak, etika, serta pemahaman terhadap hukum islam tetap memerlukan peran manusia.
“AI tidak menafikan peran ulama dan guru. Ia hanya memberikan nilai tambah dalam memperlajari kitab dan mengembangkan ilmu,” ungkapnya.
Mohd Hafiz juga mendorong digitalisasi menuskrip, kitab kuning, kitab falak, dan table astronomi klasik. Menurutnya, khazanah intelektual islam tersebut dapat dijadikan sumber data untuk penelitian berbasis AI. Digitalisasi tidak berarti menghilangkan warisan keilmuan, tetapi justru dapat memperluas akses dan memberikan nilai tambahan dalam proses penelitian. Seminar internasional ini menegaskan perlunya hubungan yang seimbang antara tradisi keilmuan islam, metode obervasi, hisab, teknologi digital, Big Data, dan Artificial Intelligence. Perkembangan teknologi perlu dimanfaatkan secara kritis, transparan, dan etis agar ilmu falak semakin berkontribusi terhadap kemajuan umat tanpa mengabaikan otoritas keilmuan dan prinsip-prinsip syariah.

